Bersenang-Senang di atas Penderitaan Sendiri

Pikiran kita selalu bergerak membentuk alibi atau alasan untuk membenarkan apa yang kita lakukan. Daripada kita mencari alasan mengapa kita tidak berhasil, kenapa tidak kita gunakan pikiran kita untuk membentuk berjuta alasan mengapa kita bisa berhasil. 

“Aahhhh… ada-ada aja lu, Ir,” begitu komentar teman saya saat saya menulis artikel ini. “Masa sih kita bersenang-senang saat kita menderita. Gak mungkiiiin, mau senyum aja susah kok suruh bersenang-senang saat menderita. Yang ada biasanya juga bersenang-senang di atas penderitaan orang lain kalee…?”

“Memang kenapa kalau gue menari di atas penderitaan gue sendiri? Badan ini kan badan gue, hati ini hati gue, pikiran ini juga pikiran gue, jadi suka-suka gue dong. Hehehee…. Kalau bersenang-senang di atas penderitaan orang lain itu sih konyol namanya.” Tambah bingung deh teman saya mendengar jawaban ini.

Penasaran dia masih nanya, “Maksud loe apa sih, Ir? Gue gak ngerti deh.”

“Gini-gini looo, apa pun rasa yang menurut kita tidak enak ataupun sulit, itu kan sebenarnya untuk kesenangan kita juga nantinya.”

“Yaa.. elaah tambah gak ngerti deh gue ke mana arah omongan lu.”

“Oke, gini deh. Kadang kita dihadapkan pada situasi-situasi sulit, yang seolah-olah kita sudah tidak punya kekuatan untuk bangkit. Bener, gak?”

“Iyaa, bener sih. Laah terus kok malah bersenang-senang?”

“Saat kita dihadapkan pada situasi yang sulit, biasanya apa sih yang lu lakukan, yang lu kerjain? Betee…kesel, sedih…?”

Sepahit apa pun keadaan, kita hendaknya yakin saja bahwa pahit yang kita alami tersebut diberikan kepada kita, agar kita tahu bagaimana nikmatnya manis.

Seperti kisah Niccolo Paganini, seorang pemain biola yang sangat terkenal pada abad ke-19. Suatu kali ia bermain biola diiringi orkestra penuh di hadapan para pemujanya yang memenuhi ruangan. Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, tapi dia meneruskan memainkan lagunya.

Kejadian yang sangat mengejutkan. Senar biolanya yang lain pun putus satu persatu, hanya meninggalkan satu senar, tetapi dia tetap main. Ketika para penonton melihat dia hanya memiliki satu senar dan tetap bermain, mereka berdiri dan berteriak, “Hebat, hebat!”

Setelah tepuk tangan riuh memujanya, Paganini meminta mereka agar duduk. Mereka mengira, Paganini tidak mungkin dapat menyelesaikan lagunya hanya dengan satu senar. Namun setelah Paganini memberi hormat pada para penonton, ia memberi isyarat pada dirigen orchestra  untuk meneruskan bagian akhir dari lagunya itu.

Dengan mata berbinar dia berteriak, “Paganini dengan satu senar!” Lalu dia mengangkat biolanya dan mulai memainkan bagian akhir lagunya dengan indahnya. Penonton sangat terkejut dan kagum pada kejadian ini.

Hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekhawatiran, kekecewaan dan semua hal yang tidak baik. Secara jujur, kita sering kali mencurahkan terlalu banyak waktu mengkonsentrasikan pada senar kita yang putus dan segala sesuatu yang tidak dapat kita ubah.

Apakah Anda masih memikirkan senar-senar Anda yang putus dalam hidup Anda? Apakah dengan senar terakhir nadanya jadi tidak indah lagi? Jika memang demikian, janganlah melihat ke belakang, majulah terus, mainkan senar satu-satunya itu. Mainkanlah itu sebaik mungkin.

Satu hal yang mudah-mudahan bisa terus kita ingat adalah tidak mungkin Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang memberikan penderitaan kepada kita untuk sesuatu yang sia-sia. Pasti selalu ada hikmah baik dari setiap kejadian yang ditimpakan-NYA kepada kita.

Every clouds have a silver lining!

Maka, dengan demikian, tetaplah berusaha agar selalu berprasangka baik dalam seburuk-buruk keadaan, karena Tuhan akan mengikuti prasangka hambaNya.

HIDUP MEMBUTUHKAN KESABARAN untuk memetik hasil. Anda membutuhkan kejelian memilih tempat untuk mengubah nasib hidup, selain daya tahan yang tangguh agar sampai kepada apa yang Anda impikan.

 

Salam Happiness

 

Irma Sustika

 

Artikel ini merupakan salah satu artikel dalam buku saya Life For Happiness yang bisa sahabat dapatkan di berbagai toko buku di seluruh Indonesia, atau bisa melalui pemesanan langsung

If you enjoyed this article, Get email updates (It’s Free)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *