Email dari sahabat di Jogja tentang buku LIFE FOR HAPPINESS

Pagi ini, saat memulai aktifitas ,seperti biasa yang saya lakukan pertama kali adalah, cek email2 yang masuk..dari deretan email yang saya terima, mulai dari konfirmasi dari klien mengenai pelaksanaan training, konfirmasi proposal yang sudah mereka terima, pemesanan buku LIFE FOR HAPPINESS, konfirmasi pengiriman buku, komentar2 sahabat tentang isi buku LIFE FOR HAPPINESS, invoice, update info dari berbagai milis, sampai dengan guyonan dengan teman2, ada sebuah email dari seorang sahabat di jogja yang telah membaca buku LIFE FOR HAPPINESS…..saya tampilkan disini ajaa deh yaaa….

 

——————-

 

Yth. Ibu Irma

saya berencana memuat resume buku ibu di website kantor kami, apa boleh?

Yogyakarta, 1 Des 2011

Martina Sri Mulyani

Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. DIY

 

———————

 

Resume Buku

Judul Buku          : Life for Happiness : Inspirasi untuk Mengatasi Kegagalan Hidup

Cetakan I, Juli 2011

192 hlm.; 15,5 x 23,5 cm; Mechanical paper 50 gr

Penulis                 : Irma Sustika

Diterbitkan oleh: Penerbit NUANSA, Bandung

 

Penulis, Irma Sustika, lahir di Jakarta, 15 Nopember 1965. Beliau adalah seorang Motivational Speaker, Softskill Trainer, serta pemilik dan Direktur ISF Consulting, sebuah lembaga pengembangan SDM yang dibangun dan dirintis sejak tahun 2006.

 

Saya membaca buku ini dengan perasaan ringan dan sangat menikmati seluruh rangkaian kata mulai  dari Kata Pengantar Penerbit hingga halaman terakhir.  Bahasa yang digunakan cenderung informal sehingga membuat saya seperti mendengar percakapan sehari-hari.

Sebagai seorang wanita berumur 35 tahun, pekerja, sekaligus istri serta ibu dari 2 orang anak, saya merasa larut dalam tulisan Ibu Irma.  Ketika membaca buku ini, saya merasa melewati kembali perjalanan hidup saya, merasakan kembali hari-hari penuh suka dan duka. Hasil akhirnya, saya merasa mendapat kekuatan baru untuk menghadapi segala tantangan hidup yang akan datang.

 

Berikut ini beberapa bagian tulisan beliau yang sangat berkesan bagi saya, antara lain:

 

HIDUP ADALAH BELAJAR

Sekolah kita yang sesungguhnya adalah pada saat kita menjalani kehidupan. Di sanalah kita benar-benar mendapatkan pelajaran.  Biaya yang telah kita keluarkan dan waktu yang diperlukan untuk menempuh pendidikan formal belum apa-apa jika dibandingkan dengan SEKOLAH KEHIDUPAN. Adapun pelajaran yang kita terima dalam Sekolah Kehidupan ini tak terbatas, bahkan waktu (jam) sekolahnya pun tidak terbatas, bisa siang, malam, dan tak mengenal hari libur.

 

HIDUP BUKAN JALAN TOL YANG BEBAS HAMBATAN

Begitulah perjalanan hidup manusia, ada masanya kita bahagia, ada masanya kita sedih.  Ada masanya jalan hidup kita sangat lancar, namun bukan hal yang tidak mungkin kita bisa merasakan tersendat. Hidup memang selalu menghadirkan dualitas: ada kaya ada miskin, susah-senang, bahagia-menderita, untung-rugi, dipuji-dicaci, dsb.

 

KEHILANGAN

Semua orang pasti pernah mengalami kehilangan, kecil maupun besar.  Mulai dari sekedar kehilangan benda remeh-temeh, harta berharga, hingga kehilangan orang-orang tercinta.  Segala yang ada di dunia ini bersifat fana. Artinya, suatu saat akan hilang, rusak, atau tidak ada lagi.  Karena pada hakekatnya, hidup adalah sebuah kehilangan.

Ada baiknya kita tidak hanya menghitung apa yang telah hilang atau berkurang. Jika kita mau menghitung apa saja yang telah kita terima dan kita miliki, maka mungkin kita kan takjub dan bersyukur karena betapa banyak yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.

 

BAHAGIA ITU PILIHAN

Bahagia atau tidak, itu semua adalah pilihan Anda sendiri.

Ukuran dan sumber kebahagiaan itu sendiri merupakan hal yang subyektif bagi setiap orang. Ada yang merasa bahagia ketika mereka punya uang banyak, punya jabatan tinggi, punya banyak teman, punya anak, punya istri, suami, dsb.  Namun semua hal tersebut bukanlah hal-hal yang membuat Anda bahagia. Kenapa?

Ada banyak orang yang punya banyak uang, tapi hidupnya tidak tenang. Mungkin karena mereka tidak mempunyai pasangan hidup, tidak punya anak, dsb. Tapi banyak juga orang berduit yang hidupnya bahagia dan mereka selalu senang membantu sesama dengan harta dan tenaga mereka.

Jika Anda merasa sedang tidak bahagia, Anda bisa mengubah cara berpikir Anda, sekaligus mengubah tindakan Anda. Jadi, kita tidak perlu menunggu mobil baru, rumah mewah, atau jabatan tinggi untuk bahagia. Salah satu cara untuk menjadi bahagia adalah bersyukur pada Sang Pemberi Kebahagiaan yaitu Allah.

 

Demikianlah beberapa poin yang sangat berkesan bagi saya tentang buku karya Ibu Irma Sustika tersebut.

 

 

Yogyakarta, 1 Desember 2011

 

Oleh:  Martina Sri Mulyani

Kasi PK pada Bidang Aklap

 

—————————————

 

Terima kasih ibu Martina, semoga resume dari  buku tersebut yang akan ditampilkan di website DJBP  semakin bermanfaat bagi siapapun yang mengunjunginya….

If you enjoyed this article, Get email updates (It’s Free)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *