Perempuan Berbisnis Kuat dan Berdaya

BERAWAL dari frustrasi melihat curhat kawan-kawan perempuannya yang menampilkan sosok yang rapuh ketika masalah menerpa, Irma Sustika merintis komunitas Womenprenuer.

“Kalau ada masalah sedikit, merasa paling sengsara. Social media jadi mirip buku harian untuk curhat. Kalau diajak berkembang, menolak dengan alasan tidak punya waktu. Padahal, mereka punya waktu untuk nonton sinetron dan ngerumpi,” imbuh Irma.

Karena menolak menyikapinya dengan nyinyir semata, Irma membuat sebuah grup di Facebook sebagai ajang berbagi dengan teman-temannya tentang kiat merintis usaha.

“Awalnya kita hanya sharing saja, tapi dengan berjalannya waktu baru kita buat kopi darat, pertemuan-pertemuan,” imbuhnya.

Dari semula dua orang yang jadi anggota, ketika grup dibuka pada 2010, kini telah menghimpun 13 ribu orang di seluruh Indonesia.

Komunitas bisnis tersebut, kata Irma, dirasa efektif karena seminar sehari atau dua hari tidak akan maksimal.

Industri rumahan yang dirintis kaum perempuan perlu didampingi dan diberi bimbingan.

“Womenpreneur itu wadahnya sahabat perempuan meng-explore diri, menggali potensi, belajar, berbagi dan berjejaring. Jadi, kita hadir untuk perempuan Indonesia agar makin banyak perempuan berdaya secara ekonomi,” jelas Irma ketika dijumpai di Kantor Womenpreneur Learning Center di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (28/3).

Dua program

Kegiatan edukasi Womenpreneur, kata Irma, diwadahi Womenpreneur Academy yang bersifat nirlaba.

“Sebagai ajang sharing, secara offline untuk yang di Jakarta maupun online untuk member di daerah. Di Facebook, kami punya banyak class group sesuai minat,” kata pendiri dan CEO ISF Consulting itu.

Pembelajaran pun sudah dibuat sistemnya, keanggotaan dibagi per angkatan dengan salah satu materi belajar, strategi pemasaran.

Para perempuan pebisnis ini berikhtiar menghasilkan produk dengan value added serta layak jual.

Selain itu, ada pula program inkubator bisnis yang dibuka sejak 2013.

“Saya cukup nekat, pada 2013 mencoba membuat program inkubator yang biasanya diselenggarakan perusahaan atau kementerian,” papar Irma.

Nyatanya, program itu terealisasi.

Inkubasi berjalan selama empat bulan, materinya terbagi atas kelas tatap muka, mentoring online, bazar, hingga presentasi publik.

Para peserta program menggarap aneka bisnis, mulai sepatu rajut, kopi, baju, boneka, hingga bantal.

“Jadi, kami persiapkan peserta, bagaimana menjadi pengusaha dan produknya pun naik kelas. Sudah banyak peserta yang sudah sukses. Saat ini kita punya 500-an alumnus dari program tersebut. Mereka benar-benar dibina untuk menjadi pengusaha,” kata pehobi jalan-jalan itu.

Siap jadi sekoci

Dengan berfokus pada perempuan, Irma meyakini, kaum hawalah yang jadi sekoci bagi kapal induk, yaitu keluarga.

“Siapa pun perempuan itu harus berfungsi dan memosisikan dirinya sebagai sekoci, penopang ekonomi. Harus siap karena kita tidak pernah tahu jalan kehidupan. Persiapkan diri dan kondisikan, sekoci harus siap pakai agar kapal tak harus tenggelam,” jelas orangtua tunggal bagi dua anak itu.

Selain pertimbangan keuangan, berwirausaha menjadi salah satu wahana agar ibu menjadi teladan anak-anaknya.

“Kita sebagai ibu harus bisa mencontohkan kebaikan, menjadi sosok yang tangguh dalam situasi apa pun. Anak-anak pun akan memotret apa yang dilakukan oleh si ibu.”

Pemberdayaan setiap hari

Kelak, Irma punya agenda mewujudkan sejuta perempuan berdaya ekonomi pada 2020 mendatang.

Implementasinya sejak 2016 ia melancarkan kampanye Sejuta Perempuan Berdaya Ekonomi.

“Intinya setelah kami membina kurang lebih 9 angkatan dengan 500 alumnus, kami mengajak teman-teman, alumnus khususnya, dan anggota lain untuk memberdayakan 1 perempuan 1 hari,” tambahnya.

Pemberdayaan dilakukan dengan memberikan pelatihan serta bantuan pemasaran.

“Bayangkan kalau 1 perempuan 1 hari, sebulan sudah 30 orang, setahun sudah 360 orang. Kalau semakin banyak dan sama-sama bergandengan tangan, insya Allah lingkungan juga akan terbantu. Perempuan mandiri harus menunjukkan karya nyata, tidak perlu menunggu bantuan. Konsistensi dan komitmen akan mengundang atensi. Kita butuh pemerintah mendukung, tapi tidak perlu mengemis.”

– See more at: http://mediaindonesia.com/news/read/98642/perempuan-berbisnis-kuat-dan-berdaya/2017-03-30#sthash.a7ui1NEv.dpuf

If you enjoyed this article, Get email updates (It’s Free)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *