Sekolah Kehidupan = Sekolah Tuhan ( Part 1 )

Hidup adalah Belajar
Banyak orang yang telah berhasil mendapatkan gelar S3 dalam mata pelajaran mengejar, meraih, dan merengkuh impian. Namun lebih banyak orang yang bahkan belum mampu meluluskan diri dari sekolah dasar dengan mata pelajaran melepaskan, bersabar, dan ikhlas.

 

SEKOLAH KEHIDUPAN SEKOLAH TUHAN, sahabat..Berapa lamakah kita menempuh pendidikan sekolah formal? Dua belas tahun? Enam belas? Dua puluh tahun? Agar bisa mengenyam pendidikan sampai S-1, rata-rata kita mesti menempuh pendidikan formal selama 16-18 tahun. Jika ditambah dengan pendidikan non-formal, seperti kursus, pelatihan, dan sebagainya, tentu waktu belajar kita lebih banyak lagi.

Lalu berapa banyak materi yang mesti dipelajari? Berapa banyak tugas dan pekerjaan rumah yang kita dapat? Berapa banyak ujian yang kita lalui selama kita menempuh pendidikan? Apakah semua materi telah kita pelajari dan kuasai benar? Apakah tugas dan pekerjaan yang diberikan telah berhasil kita kerjakan? Apakah kita bisa lulus ujian dan mendapat nilai terbaik?

Apa pun yang menjadi target pencapaian hidup kita, pasti ada tantangannya. Jika kita ingin memiliki ijazah SMA, misalnya, kita harus menjalani proses pendidikan dari pendidikan dasar hingga SMP. Dalam masa itu kita harus menghadapi berbagai tempaan dan ujian, baik soal-soal ulangan harian, ulangan umum, maupun ujian nasional. Jika kita ingin mencapai pendidikan yang lebih tinggi, agar memiliki gelar sarjana Strata 1, misalnya, kita harus menjalani proses pendidikan lagi selama kurang lebih 5 tahun. Begitu seterusnya jika kita ingin mencapai pendidikan S2 dan S3.

Proses tersebut mau tidak mau harus kita hadapi dengan sebuah perjuangan yang cukup panjang, untuk mendapatkan kompetensi pendidikan yang kita inginkan. Semua itu butuh waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Semua ada tantangannya masing-masing, dan hasilnya pun akan kita nikmati setelah menjalani semua proses yang sudah sewajarnya kita lewati.

Berapa besar biaya yang telah kita keluarkan untuk semua sekolah formal itu? Adakah yang bisa mengakumulasikannya? Sebenarnya, biaya yang telah kita keluarkan dan waktu yang diperlukan untuk menempuh pendidikan formal tersebut belum apa-apa jika dibandingkan dengan sekolah yang satu ini, yakni SEKOLAH KEHIDUPAN. Pelajaran yang kita terima dalam Sekolah Kehidupan ini tak terbatas, bahkan waktu (jam) sekolahnya pun tak terbatas, bisa siang, malam, dan tak mengenal hari libur. Jumlah biayanya pun bisa tak terbatas pula.

Jika ada seseorang di dunia ini yang hidupnya selalu senang dan diberi kemudahan terus-menerus tanpa pernah mengalami masalah dan kesulitan satu kali pun, wuuuiih alangkah senangnya… Tapi, apakah ada orang seperti itu di dunia ini? Semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan, asalkan kita mau berbuat sesuatu dan melakukan pengorbanan untuk mendapatkannya.

Dalam sistem pendidikan formal, bahan materi pengajaran dan panduan tertulis berupa buku pelajaran atau diktat tersedia. Namun berbeda dengan di Sekolah Kehidupan. Manusia tidak dilahirkan dengan dilengkapi buku panduan. Kita tidak diberi diktat atau buku pelajaran dari Tuhan tentang cara bernapas, cara mulai berjalan, makan-minum. Manusia belajar dengan mencoba dengan melakukan tanpa panduan tertulis.

Bayi belajar meminum air susu ibu menggunakan naluri, belajar mengunyah makanan, mencecap dan membedakan rasa, belajar merangkak, berdiri, berjalan, alalu berlari. Seiring waktu, apa yang kita pelajari semakin banyak dan semakin kompleks. Berbagai ujian juga kita temui. Sebagaimana halnya di sekolah formal, ujian-ujian itu diberikan agar kita dapat naik kelas atau naik tingkat apabila berhasil lulus. Bedanya, dalam sekolah formal kita bisa mengetahui kapan kita akan ujian dan pelajaran apa yang akan diuji nanti. Namun dalam Sekolah Kehidupan, kita sering kali tidak tahu ujian apa yang akan kita tempuh, kapan waktunya dan apa pelajarannya. Kita baru bisa belajar saat kita telah menjalani dan melewati ujian tersebut.

 

Sahabat Happiness

Artikel ini adalah bagian dari artikel yang ada dalam buku saya LIFE FOR HAPPINESS. Anda ingin terus dapat membaca artikel artikel lainnya?segera jadikan LIFE FOR HAPPINESS sebagai sahabat anda

 

Salam

Irma Sustika

 

Salam Happiness

If you enjoyed this article, Get email updates (It’s Free)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *